Situs Rawat Ruwat: Taman Gandrung Terakota, Sebuah Daya Tarik Ikonik Baru Di Kawasan Lereng Ijen

Gandrung merupakan sebuah identitas masyarakat Banyuwangi, dimana gandrung merupakan sebuah tarian ikonik yang merepresentasikan persembahan masyarakat Banyuwangi terhadap dewi kesuburan, yakni Dewi Sri.

Dan ikon gandrung tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah situs rawat ruwat bernama Gandrung Terakota (mengadopsi konsep prajurit terakota di kota Xi’An, Tiongkok. Terletak di sebuah kawasan bernama Sumber Kalongan, Dusun Jambu,Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi serta berada dalam naungan Jiwa Jawa Resort, situs tersebut menawarkan suasana tenang pedesaan yang berada di kaki gunung, pemandangan persawahan yang asri, serta ketentraman alam, pasti akan menjai salah satu pemikat wisatawan yang cemerlang nantinya.

Foto berikut sengaja admin edit hitam putih supaya terlihat dramatis seperti berasal dari masa lalu. Silahkan dinikmati dulu foto-fotonya, lalu baca keterangannya. Ingat, baca.

Taman Gandrung Terakota merupakan sebuah upaya untuk mempertahankan nilai religiusitas dalam berkesenian, yang dulunya memiliki tujuan untuk persembahan dan ungkapan rasa syukur terhadap sebuah energi kosmik Maha Besar yang menghidupkan dan menghidupi manusia. Seiring berkembangpesatnya peradaban manusia, perlahan menggeser kehidupan supranaturalistiknya, dan kini terjadi pergeseran nilai kembali dari ungkapan syukur menjadi sebuah seni budaya yang menjadi ikon komunitas masyarakat Banyuwangi.

Alhasil, terciptanya dan terealisasinya gagasan kembali ke khittah ini dituangkanlah dalam suatu mahakarya, yang kini mengandung nilai refleksi kembali ke kearifan lokal. Berikut ini merupakan testimoni dari seorang kurator seni rupa nasional yang mengulas tentang Taman Gandrung Terakota:

Dengan pendekatan pembangunan kawasan, Situs Gandrung Terakota ini dibangun sebagai upaya untuk merawat dan meruwat salah satu identitas Banyuwangi, yakni Tari Gandrung. Jenis tarian ini mengalami pasang surut kehidupan yang dinamis. Bermula sebagai tari persembahan dari masyarakat agraris kepada Dewi Sri, yang juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan atau Dewi Padi, menjadi tari pergaulan, kemudian menjadi salah satu ikon kesenian Banyuwangi. Seusai panen, masyarakat petani terbiasa bersukacita – menari, menyanyi, dan lainnya – sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen. Bertolak dari kisah semacam itu, di kawasan persawahan ini dibangun Situs Taman Gandrung Terakota (Terracota Dancers) berupa ratusan patung penari gandrung yang tersebar di area persawahan.

READ  Pesona Bukit Watu Dodol

Mengkreasi karya terakota berbentuk penari gandrung, merupakan upaya merawat bumi. Suatu monumen kehidupan yang organik, yang memiliki inspirasi dan narasi penting bagi masyarakat sekitarnya, ikon daerah, sekaligus berpotensi mengisnpirasi bagi banyak orang. Jika monumen yang sifatnya gigantik menjulang ke langit, sudah dibangun di banyak tempat dan dianggap sebagai kelaziman, di situs ini justru kebalikannya. Di sini monumen ratusan patung tembikar itu lebih membumi.

Seperti halnya praktek kebudayaan, berkarya terakota tidak bertujuan untuk menciptakan bentuk yang abadi atau kekal, karena memang bersifat ringkih, mudah retak, patah, atau bahkan hancur. Justru itulah makna dan nilai yang ditawarkan, kesenian dan ketidakabadian. Karena, yang abadi adalah proses, makna, dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya (dalam proses dan dalam bentuk akhir). Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa yang abadi adalah “siklus kehidupan”, terus menerus berada dalam proses; proses belajar, proses memahami, proses kreasi, yang akan berujung pada merayakan kehidupan.

Pembangunan kawasan ini sepenuhnya dalam kesdaran semacam itu, yaki membangun kawasan dan situs yang membawa manfaat baik secara ekonomi, maupun dalam aspek budaya. Hamparan sawah di sekitar situs, tetap dibiarkan berfungsi sebagai sawah, yang digarap oleh petani yang sama, masih dibajak dengan kerbau, dan masih ditanami padi. Hamparan sawah dan pepohonan di sekitarnya tetap dimuliakandengan panggung kesenian, amfiteater, pertunjukan jazz, dan karya terakota penari gandrung. Di halaman depan pendopo, ada sebuah karya patung kerbau, yang dipresentasikan secara urutan, dari sosok kerbau yang utuh, hingga bentuk sebagian badan kerbau yang terbenam dalam pangkuan bumi. Karya ini dimaksudkan sebagai refleksi kritis terhadap perubahan zaman, owahing jaman, kemajuan yang menggusur tradisi dan kearifan lokal. Di sudut kanan amfiteater ada sebuah instalasi seni Dewi Sri yang menitis menjadi penari Gandrung. Sebuah simbol siklus terbalik dari Gandrung memuja sang dewi yang imortal menjadi Dewi Sri yang memuliakan manusia dengan menitis ke raga manusia yang mortal.

READ  Wisata Jogja – Candi Prambanan

Inilah Taman Gandrung Terakota, sebuah “situs rawat ruwat” seni budaya, dalam suatu kawasan Jiwa Jawa Ijen. Bukit hijau dan hamparan sawah yang di dalamnya dapat kita temukan galeri seni rupa, amfiteater terbuka untuk pertunjukan kesenian berjadwal, dan pementasan dramatari Meras Gandrung, perhelatan musik jazz, para petani membajak sawah, kebun kopi, pohon durian, manggis, tumbuhan perindang, “arboretum bambu”, museum hidup berbagai jenis bambu, dan taman-taman dengan jenis tanaman endemik setempat. Situs Taman Gandrung Terracotta juga bisa dipahami sebagai upaya rebranding, meremajakan citra, persepsi atau nama (brand); tari Gandrung dan Banyuwangi sebagai brand. Banyuwangi, tari Gandrung, bukit, sawah, dan kopi merupakan modal kultural awal, yang dikreasidan dikemas menjadi sesuatu yang lain yang menghasilkan pengetahuan. Menghasilkan sebuah inovasi.

Sigit Pramono, seorang fotografer lanskap yang dengan segenap gairah memburu panorama alam di berbagai belahan bumi, adalah mantan profesional perbankan, aktivis sejumlah organisasi sosial, dan sang penggagas Taman Gandrung Terakota. Sigit memaksimalkan pengalamannya sebagai fotografer lanskap untuk memulai seluruh kerja budayanya. Ia melakukan ‘perjalanan’ ulang alik antara realitas menjadi gambar, dan dari gambar menjadi realitas. Ketika menekan tombol rana (shutter) kamera, ia tengah memindahkan komposisi alam (obyek) ke gambar. Dalam kegiatannya berkesenian ini, baik di Bromo maupun di Ijen – ia memindahkan dari gambar ke realitas. Situs Taman Gandrung Terakota (Terracotta Dancers) ini berada dalam semangat semacam itu.

Dr. Suwarno Wisetrotomo
Dosen di Fakultas Seni Rupa dan Pascasarjana ISI Yogyakarta
Kurator Galeri Nasional Indonesia

Dan yang terakhir ini foto aslinya tanpa ada edit hitam putih. Bagaimana, tertarik datang kesini?

Silahkan datang ke Jiwa Jawa Resort untuk menginap, atau hanya sekedar bercengkerama dengan kolega di Java Banana Resto. Tamansari itu indah, Banyuwangi itu megah, dan Indonesia itu anugerah.

READ  15 reason why you should visit Ijen Crater